Liputanborneo.com, TENGGARONG – Pemutaran film dokumenter “Penyambung Lidah Rakyat” di Kecamatan Sangasanga tidak hanya menjadi hiburan dalam momen halal bihalal, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat. Film tersebut dinilai sebagai medium baru dalam menyampaikan aspirasi dan memperlihatkan perjalanan nyata seorang wakil rakyat.
Berbeda dari pendekatan politik pada umumnya, dokumenter ini hadir tanpa skenario yang dibuat-buat. Seluruh adegan merupakan potongan perjalanan Rahmat Dermawan selama lebih dari satu tahun menjabat sebagai anggota DPRD Kutai Kartanegara. Mulai dari kunjungan ke daerah terpencil hingga mendengarkan langsung keluhan warga menjadi bagian penting dalam cerita.
Bagi masyarakat, pendekatan ini dinilai lebih jujur dan transparan. Warga dapat melihat secara langsung bagaimana proses kerja seorang wakil rakyat di lapangan. Tidak sedikit yang menyebut bahwa dokumentasi semacam ini jarang dilakukan oleh pejabat lainnya, sehingga memberikan kesan berbeda dan lebih terbuka.
Sejumlah warga mengungkapkan bahwa apa yang ditampilkan dalam film sesuai dengan kenyataan yang mereka rasakan. Salah satu perubahan yang paling dirasakan adalah peningkatan akses jalan. Waktu tempuh yang sebelumnya mencapai setengah jam kini dapat dipangkas menjadi hanya 10 hingga 15 menit, sehingga sangat membantu mobilitas warga.
Selain infrastruktur, bantuan terhadap kegiatan masyarakat dan organisasi di tingkat kelurahan juga menjadi perhatian. Warga mengaku telah merasakan manfaat dari berbagai program yang diberikan. Hal ini memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja yang ditampilkan dalam film tersebut.
Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara masyarakat dan wakil rakyat. Harapan pun disampaikan agar perhatian yang telah diberikan dapat terus berlanjut ke depan. Warga berharap adanya kesinambungan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan mereka.
Di akhir acara, suasana hangat masih terasa di antara para peserta. Film tersebut tidak hanya meninggalkan kesan emosional, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki di kalangan warga. Mereka merasa bahwa cerita yang diangkat bukan sekadar dokumentasi, melainkan representasi suara mereka yang selama ini ingin didengar.







