Liputanborneo.com, TOKYO – Harga rata-rata bensin di Jepang mengalami kenaikan seiring melonjaknya harga minyak mentah dunia akibat konflik perang di Iran. Data pemerintah Jepang menunjukkan harga bensin kini mencapai sekitar 161,80 yen per liter atau setara sekitar Rp17.230.
Kenaikan tersebut tercatat sebesar 3,30 yen dibandingkan harga pada awal Maret. Tren kenaikan harga bahan bakar ini bahkan telah terjadi selama empat pekan berturut-turut di Jepang.
Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang menyebut lonjakan harga bensin dipicu oleh meningkatnya harga minyak mentah global setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah membuat pasar energi dunia mengalami tekanan yang signifikan.
Para analis memperkirakan harga bensin di Jepang masih berpotensi naik dalam waktu dekat jika konflik tersebut terus berlanjut. Pusat Informasi Minyak Jepang memperkirakan harga bensin bisa melonjak hingga sekitar 20 yen lagi pada pekan depan, yang berarti dapat mendekati 180 yen per liter.
Kenaikan harga energi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah Jepang yang tengah berupaya menjaga stabilitas ekonomi dan menekan laju inflasi. Jepang merupakan negara yang sangat bergantung pada impor energi, sehingga gejolak harga minyak dunia langsung berdampak pada biaya bahan bakar domestik.
Secara global, konflik di Timur Tengah telah mendorong lonjakan harga minyak dan memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara. Gangguan pada jalur distribusi minyak serta kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia membuat harga energi semakin bergejolak dalam beberapa pekan terakhir.
Jika ketegangan geopolitik tersebut tidak segera mereda, para ekonom memperkirakan tekanan terhadap harga energi global masih akan berlanjut dan berpotensi memengaruhi biaya hidup masyarakat di berbagai negara, termasuk Jepang.







