Search

Tradisi Mabbaca-baca, Warisan Budaya Bugis yang Tetap Hidup di Perantauan

Minggu, 22 Maret 2026
Foto: Suasana makan bersama dalam tradisi mabbaca-baca di salah satu rumah warga.

Liputanborneo.com, TENGGARONG – Perayaan Hari Raya Idulfitri tidak hanya menjadi momentum ibadah dan silaturahmi, tetapi juga sarat dengan tradisi budaya yang terus dijaga oleh masyarakat di berbagai daerah. Salah satunya adalah tradisi mabbaca-baca yang masih dilestarikan oleh masyarakat Suku Bugis, termasuk yang bermukim di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Mabbaca-baca merupakan ritual doa bersama yang biasa dilakukan menjelang atau saat Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini menjadi bentuk ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diberikan, sekaligus permohonan keselamatan dan keberkahan bagi keluarga. Dalam pelaksanaannya, keluarga besar berkumpul dan doa dipimpin oleh tokoh agama atau anggota keluarga yang dituakan.

Rangkaian mabbaca-baca diawali dengan penyajian berbagai hidangan khas. Menu seperti ketupat, burasa, ayam masak lengkuas, hingga kue tradisional seperti bolu cukke dan barongko menjadi bagian penting dalam tradisi ini. Selain untuk disantap bersama, hidangan tersebut juga memiliki makna simbolis sebagai wujud syukur.

Salah satu warga Suku Bugis di Loa Tebu, Tenggarong, Suharni, mengatakan tradisi ini masih rutin dilakukan oleh keluarganya meski telah lama merantau. Ia menilai mabbaca-baca bukan sekadar tradisi, tetapi juga menjadi pengikat hubungan keluarga.

“Walaupun kami sudah tidak tinggal di kampung halaman, tradisi ini tetap kami lakukan. Biasanya kami berkumpul, menyiapkan makanan, lalu dibacakan doa bersama,” ujarnya.

Menurutnya, mabbaca-baca menjadi sarana penting untuk menjaga identitas budaya sekaligus mempererat silaturahmi antaranggota keluarga di perantauan. Tradisi ini juga menjadi cara untuk mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tidak tergerus zaman.

Di tengah arus modernisasi, masyarakat Bugis di berbagai daerah, termasuk di Kalimantan Timur, terus berupaya mempertahankan tradisi ini. Mabbaca-baca pun menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap hidup dan relevan, terutama dalam momen sakral seperti Hari Raya Idulfitri.

BERITA LAINNYA