Liputanborneo.com, TENGGARONG – Pameran Kearsipan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Tahun 2026 resmi dibuka di Aula Perpustakaan Daerah Tenggarong, Kamis (9/4/2026). Kegiatan yang digagas Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diarpus) Kukar ini dibuka langsung oleh Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, dan terbuka untuk masyarakat umum.
Pameran ini menjadi sarana edukasi publik dengan menampilkan berbagai arsip yang merekam perjalanan sejarah serta capaian pembangunan daerah. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap warisan sejarah Kutai Kartanegara.
Dalam sambutannya, Aulia menegaskan bahwa arsip memiliki nilai strategis sebagai bukti otentik perjalanan suatu daerah.
“Kegiatan ini memiliki nilai strategis, karena arsip merupakan bukti otentik yang menceritakan peristiwa di masa lalu, sehingga harus dijaga, dirawat, dan diatur aksesnya dengan baik,” ujarnya.
Pameran ini juga dirangkaikan dengan pemberian penghargaan kepada sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan arsiparis yang dinilai berprestasi dalam pengelolaan arsip.
Berdasarkan hasil pengawasan kearsipan internal tahun 2025, sepuluh OPD meraih predikat “sangat memuaskan”, di antaranya Kesbangpol, RSUD AM Parikesit, Diarpus, Dishub, Perkim, Sekretariat DPRD, DP2KB, Kecamatan Muara Badak, Diskominfo, dan DPMD.
Secara nasional, Kukar juga mencatat prestasi dengan menempati peringkat ke-20 dari 514 kabupaten/kota dalam pengelolaan arsip. Sementara di tingkat Provinsi Kalimantan Timur, Kukar berada di posisi pertama.
Sementara itu, Kepala Diarpus Kukar, Ridha Darmawan, menjelaskan bahwa pameran tahun ini dibagi ke dalam lima zona utama yang menggambarkan perjalanan arsip dari masa ke masa.
Zona pertama menampilkan arsip era kesultanan, dilanjutkan zona kolonial yang memuat dokumentasi pertambangan, ekonomi, dan sosial budaya. Zona berikutnya menampilkan arsip pembentukan otonomi daerah hingga pembangunan modern.
Selain arsip tekstual, pengunjung juga dapat melihat arsip visual berupa foto, film, dan video yang ditampilkan di ruang teater, termasuk proses digitalisasi arsip.







